FadaNews – Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Fakultas Dakwah UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten menggelar Orientasi Praktikum Profesi Lapangan (PPL) dengan tema “Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Kearifan Lokal untuk Mendukung Pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs),” Kamis (27/8).
Kegiatan yang berlangsung di Aula Fakultas Dakwah tersebut diikuti mahasiswa semester 7 sebagai bagian dari persiapan sebelum terjun langsung ke lokasi praktikum. Dalam kegiatan tersebut, Sekretaris Program Studi PMI UIN Banten, Khairul Anam, M.Si., menyampaikan bahwa PPL menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan pengetahuan dan keterampilan pemberdayaan masyarakat yang telah diperoleh selama perkuliahan.
Menurut Khairul Anam, PPL tidak sekadar menjadi kegiatan penempatan mahasiswa di lapangan, tetapi merupakan proses pembelajaran profesional yang mempertemukan teori dengan kondisi nyata masyarakat. Mahasiswa dituntut mampu membaca persoalan, mengenali potensi dan aset masyarakat, membangun relasi dengan berbagai pemangku kepentingan, serta merancang program berdasarkan kebutuhan dan data lapangan.
“Mahasiswa tidak datang ke lokasi dengan tangan kosong. Mereka sudah dibekali dasar CSR, pemberdayaan, riset lapangan, dan pelaporan program. Karena itu, PPL harus menjadi ruang untuk menerapkan kompetensi tersebut secara nyata,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kompetensi yang dibawa mahasiswa meliputi kemampuan konseptual mengenai CSR, GCG, Triple Bottom Line, SDGs/ESG, serta model implementasi CSR. Selain itu, mahasiswa juga dibekali kemampuan analisis melalui social mapping, identifikasi masalah, asset mapping, dan stakeholder mapping.
Pada aspek perencanaan, mahasiswa diarahkan mampu menyusun proposal program, logic model atau Logical Framework Approach (LFA), indikator keberhasilan, hingga identifikasi risiko. Sementara dalam pelaksanaannya, mahasiswa akan melakukan praktik lapangan, fasilitasi, komunikasi dengan masyarakat, serta dokumentasi kegiatan.
Dalam pelaksanaan PPL, mahasiswa akan ditempatkan di sejumlah lembaga dan komunitas yang memiliki karakteristik berbeda. Materi sosialisasi mencatat terdapat delapan lokasi PPL, di antaranya LAZ Harfa, BPBD Banten, Bappeda Banten, DT Peduli, Krakatau Sarana Properti, PT Indah Kiat, Yasmui, dan AMCF. Fokus kegiatan mencakup filantropi, kebencanaan dan resiliensi, perencanaan pembangunan, CSR industri, pemberdayaan UMKM, lingkungan, hingga kearifan lokal dan masyarakat adat.
Khairul Anam menekankan agar mahasiswa menjadikan setiap lokasi PPL sebagai ruang belajar sekaligus memberikan kontribusi nyata. Mahasiswa diarahkan untuk tidak berhenti pada kegiatan observasi atau membantu pekerjaan administratif, melainkan menghasilkan output yang dapat dimanfaatkan oleh mitra PPL.
“Datang dengan etika, bekerja dengan data, dan pulang membawa produk yang bisa dipakai,” tegasnya.
Selama pelaksanaan PPL, mahasiswa akan menjalani tahapan kerja yang mencakup orientasi lokasi dan etika kerja, social mapping, stakeholder mapping, needs and asset assessment, penyusunan desain program, implementasi program atau pilot, monitoring dan evaluasi, hingga presentasi akhir, laporan, serta serah terima output. Setiap tahapan juga harus didukung bukti kegiatan berupa logbook, dokumentasi, catatan lapangan, dan progres output.
Adapun target output yang harus dihasilkan mahasiswa meliputi profil lokasi, social mapping dan stakeholder mapping, problem tree dan asset map, matriks program berbasis LFA, implementasi program, logbook harian, monitoring dan evaluasi mingguan, laporan akhir, presentasi profesional, serta rekomendasi tindak lanjut bagi lokasi PPL dan Program Studi PMI.
Melalui orientasi tersebut, mahasiswa diharapkan mampu menjalankan PPL secara profesional dengan menjunjung etika, disiplin, kolaborasi, penggunaan data, dan akuntabilitas. Dengan demikian, PPL tidak hanya menjadi bagian dari proses akademik, tetapi juga menjadi laboratorium bagi mahasiswa PMI untuk mengasah kemampuan sebagai fasilitator, analis sosial, perancang program, dan evaluator dalam praktik pemberdayaan masyarakat.
“PPL bukan sekadar penempatan. PPL adalah latihan menjadi profesional pemberdayaan masyarakat: membaca data, membangun relasi, merancang program, mengeksekusi, mengevaluasi, dan mempresentasikan perubahan awal secara bertanggung jawab,” tutupnya.



